PNS Tutup Buku, Mak Etek Nal Beralih ke Usaha Penyulingan Serai Wangi

0
827

Sabana Kaba, Tanah Datar—Memasuki masa pensiun merupakan masa yang ditakuti banyak orang, baik itu sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) maupun sebagai karyawan swasta. Secara hitung-hitungan penghasilan jelas mengalami penurunan, tetapi yang menjadi permasalahan bukanlah angka-angka tersebut, melainkan aktivitas yang terhenti tiba-tiba.

Ketika menjadi pejabat, tiap sebentar turun ke lapangan dan studi banding ke daerah lain dengan memanfaatkan fasilitas kantor. Setiap gerak-gerik yang menyangkut dengan perjalanan dinas jelas dibayar, tetapi setelah memasuki masa pensiun semua kesibukan dan penghasilan seakan-akan pergi dari kehidupan.

Namun tidak demikian dengan Arinal, SH pensiunan Dinas PMD PPKB (Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana) Tanah Datar. Pria yang lebih populer dengan panggilan “Mak Etek Nal” ini justru lebih bergairah setelah dipensiunkan pemerintah, karena usaha yang lebih menjanjikan sudah menanti.

“Saya itu pensiunan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, aneh juga jika tidak bisa memberdayakan diri sendiri,” kata Arinal ketika ditemui sabanakaba.com di lokasi penyulingan serai wangi di Nagari Rambatan Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat, Selasa (30/7).

Menurut Mantan Kabid Keluarga Berencana ini, sebelum memasuki masa ipensiun a sudah merencanakan suatu usaha yang bisa membikin sibuk dan menambah pendapatan rumah tangga. Salah satu usaha itu dalam bentuk pemberdayaan serai wangi yang belum banyak digeluti masyarakat petani Kabupaten Tanah Datar.

“Alhamdulillah, rencana tersebut mendapat dukungan sepenuhnya dari isteri Elzafius Sofyan, sehingga proses pelaksanaannya berjslan dengan lancar,” kata Arinal.

Sebelum berkiprah lebih jauh dalam perberdayaan serai wangi ini, Arinal berpikir akan lebih baik dilengkapi dengan alat penyulingan. Untuk itu, ia harus melakukan studi banding ke Sumedang Jawa Barat dan ketika ditanyakan total biaya satu set alat penyulingan dengan kapasitas sekitar 500 Kg mencapai Rp.65,- juta.

“Ketika saya konsultasikan dengan salah seorang tukang las di Batusangkar, ternyata biaya satu set alat penyulingan ini biayanya dapat ditekan menjadi sekitar Rp.50,- juta,” kata Arinal lagi dengan sedikit tersenyum sambil memegang alat penyuling kebanggaannya.

Setelah membuka lahan serai dan memiliki alat penyuling, kini Arinal lebih menghabiskan masa pengsiun dengan mengolah daun serai wangi menjadi minyak serai. Untuk sekali suling Arinal harus menyediakan 750 Kg daun serai wangi untuk disuling. Usai diproses sekitar 7 jam menghasilkan minyak serai 5 s/d 6 Kg.

“Jika minyak serai dijual Rp.300.000,- per kg, maka satu hari akan menghasilkan uang sebanyak Rp1,5 juta suatu angka yang cukup lumayan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat seperti saya ini,” tutur Arinal sambil berseloroh.

Keberadaan alat penyuling serai wangi ini tidak hanya dimanfaat sendiri, tetapi juga dimanfaatkan ole masyarakat Kabupaten Tanah Datar yang memiliki kebun serai wangi. Untuk jasa penyulingan ini Arinal hanya mendapat imbalan Rp.330.000,- untuk sekali penyulingan dengan rincian sewa alat Rp.110.000,- beli kayu Rp.100.000,- dan biaya operator Rp.120.000,-

“Usaha ini dimulai sejak Oktober 2018 dan kini pemanfaatan jasa penyulingan sudah dimanfaatkan oleh petani dari Salimpaung, Pasia Laweh, Sungai Tarab, Sungayang dan Kecamatan Rambatan,” kata Arinal mengakhiri keterangannya.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here