<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nan Tacelak &#8211; SabanaKaba</title>
	<atom:link href="https://sabanakaba.com/category/nan-tacelak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sabanakaba.com</link>
	<description>Sarana Berita Minang Kabau</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 May 2026 23:18:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.5</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">240498565</site>	<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (11), Yusnaldi: Jadi Wartawan di Tanah Datar Menyita Beban dan Menantang Mental</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-11-yusnaldi-jadi-wartawan-di-tanah-datar-menyita-beban-dan-menantang-mental/26789/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2026 23:03:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26789</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Melaksanakan tugas sebagai wartawan dalam era Wartawan Mesin Ketik memang memiliki beban yang cukup berat, dengan perjuangan cukup menantang. Salah kaprah dalam menginformasikan berita masyarakat bisa-bisa mengundang kemarahan masyarakat itu sendiri, simak pengalaman Yusnaldi menjalani profesi kewartawanan dibawah ini. Peristiwa kelam bagi pendaki gunung Marapi pada 19 November 1999 kala [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Melaksanakan tugas sebagai wartawan dalam era Wartawan Mesin Ketik memang memiliki beban yang cukup berat, dengan perjuangan cukup menantang. Salah kaprah dalam menginformasikan berita masyarakat bisa-bisa mengundang kemarahan masyarakat itu sendiri, simak pengalaman Yusnaldi menjalani profesi kewartawanan dibawah ini.</p>
<p>Peristiwa kelam bagi pendaki gunung Marapi pada 19 November 1999 kala menewaskan empat orang siswa SMAN Batusangkar merupakan jejak langkah kewartawanan yang kurang mengenakan bagi saya.Saat itu, beberapa hari balik-balik ke posko di pinggang Marapi dalam tugas liputan hingga suatu malam yang dingin dan basah saya membuat kesalahan.</p>
<p>Hal ini terjadi saat bersilewerannya informasi yang beredar disana sehingga saya salah tulis.Paginya di Harian Mimbar Minang jadi headline Tut tewas di Marapi. Ini tentu membuat saya merasa bersalah dan cemas karena headline demikian hanya Harian Mimbar Minang, dan tak ada harian yang menyebutkan tewasnya korban di Marapi, kecuali temannya yang positif tewas dan ditemukan malamnya.</p>
<p>Saat itu saya bersama wartawan Padang Ekspres Angku Mustafa Akmal yang dapat info akurat, dan mengaku dapat informasi terakhir bahwa yang tewas itu bukan ia.Memang benar Tut ditemukan tewas setelah korban yang lainnnya ditemukan.Esoknya di Balai Wartawan ada informasi orang mencari saya hingga kemudian saya meneruskan liputan ke keluarga korban.</p>
<p>Untung saat itu ditemani Anton Yondra dari Haluan. Dimana ayah korban adalah gurunya juga, dan bisa menahan emosi massa untuk berbuat sesuatu untuk mencari saya.Jerih payah bolak-balik ke gunung Marapi dengan motor pribadi dan menumpang kendaraan dinas saat itu bersama sejumlah kawan, kami menerima belanja dari Pak Bupati Masdar Saisa senilai Rp. 150 ribu yang harganya sangat besar.</p>
<p>Sebagai anak muda yang siap pergi kemana-mana di Tanah Datar, kami bersama satu tim dengan Ni Linda, H Epi Gapuak, Masriwal, Mustafa Akmal, M. Mr. Tibb, Anton Yondra, Martias, dan sejumlah seniornya lainnya mengunjungi hampir seluruh pelosok Tanah Datar.</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2</strong></span> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26789</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (10), Destia Sastra Wartawan Idealis dari Ranah Minang</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-10-destia-sastra-wartawan-idealis-dari-ranah-minang/26782/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2026 00:08:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26782</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Perjuangan Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar dalam menekuni profesi wartawan memang cukup bervariasi, ada enaknya dan tak jarang pula mendapat ancaman dari berbagai pihak yang merasa tersenggol. Destia Sastra sebagai seorang wartawati di Luhak Nan Tuo, tidak luput dari ancaman pihak yang merasa “tasingguang puncak kadanyo”, simak ungkapan yang disampaikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Perjuangan Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar dalam menekuni profesi wartawan memang cukup bervariasi, ada enaknya dan tak jarang pula mendapat ancaman dari berbagai pihak yang merasa tersenggol. Destia Sastra sebagai seorang wartawati di Luhak Nan Tuo, tidak luput dari ancaman pihak yang merasa “tasingguang puncak kadanyo”, simak ungkapan yang disampaikan dibawah ini.</p>
<p>Tanpa terasa sudah 29 tahun saya berkiprah dalam dunia jurnalistik yang dimulai dengan mesin ketik hingga saat ini mengunakan Android. Saya mulai terjun menjadi wartawan pada tahun 1996 dan bergabung dengan KMD Harian Haluan.Semua berawal dari TV Hitam Putih amak, saya yang ketika itu masih kecil suka menonton &#8220;Dunia Dalam Berita&#8221; yang disiarkan TVRI pada pukul 21.00 WIB.</p>
<p>Program yang satu ini merupakan program berita andalan dari TVRI. Sesuai dengan namanya, program yang eksis sejak 20 Juli 1973 ini menyiarkan berita-berita interasional.</p>
<p>Melalui program Dunia Dalam berita saya menyaksikan berbagai kabar daerah, nasional dan internasional. Saya terkagum-kagum saat pembaca berita membacakan berita-berita yang sudah dipilih dan dipilah. Dari sekian banyak berita saya sering menyaksikan Menteri Penerangan Harmoko yang menyampaikan kabar tentang keberhasilan pembangunan.</p>
<p>TV Hitam Putih Amak itu mengantarkan saya bertemu wartawan KMD Haluan Tanah Datar seperti Mittiarni, Rini dan Elinisfa, saya juga akhirnya tahu lelaki berkacamata itu bernama Zulfikar Gatot, dan yang bekerja di Dinas Kesehatan Tanah Datar itu Darmi DH, ada juga Syafran Tamsa, Wirmas Darwis, Emrizal, Irwan Darwis, Nazirwan Ma&#8217;ani, M. Ilyas, Nazim Azis, Syafrinal dan masih banyak yang lainnya.</p>
<p><strong>Suka Duka Jadi Wartawan</strong></p>
<p>Bercerita tentang suka dan duka sebagai wartawan, bagi saya lebih banyak sukanya meski terkadang harus menghadang resiko, seperti diuber-uber preman, gara-gara berita pungli, atau dicari-cari ASN di Dinas Pendidikan karena menyorot kasus di instansi itu, bahkan tahun 2000 nyaris dipenjara karena menyoroti kasus judi ambuang yang diduga dibeking oleh oknum Polri.</p>
<p>Saya wartawan perempuan yang ditempatkan diposko kriminal, meski saya sudah menyampaikan keberatan, dari tiga orang wartawan Harian Sumbar Mandiri di Tanah Datar saya satu-satunya wartawan perempuan, tapi redaktur yang bertanggung jawab untuk berita Tanah Datar berpendapat lain, sehingga saya dipilih dan ditetapkan untuk berita-berita kriminal.</p>
<p>Kasus judi ambuang di salah satu sudut kampung ini mencuat saat ada orang sesumbar bahwa judi ambuang dibeking oleh oknum Polri, orang itu melanjutkan mobil dinas di institusi itu yang rusak diamuk masak di Kecamatan Salimpaung diperbaiki dari dana yang berasal dari arena judi itu.</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2</strong></span> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26782</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (9),Wirmas Darwis, SE: Dendam Kehidupan Membawa Berkah, Jadi Wartawan  Suatu Pilihan</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-9wirmas-darwis-se-dendam-kehidupan-membawa-berkah-jadi-wartawan-suatu-pilihan/26760/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 22:42:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26760</guid>

					<description><![CDATA[0leh : WIRMAS DARWIS, SE Jangan terlalu sedih dan kecewa, jika direndahkan oleh teman atau masyarakat lainnya, mana tahu dibalik pendakian ada penurunan. Asal ada usaha, Insya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan membukakan pintu rezki, simak perjalanqn hidup Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar yang satu ini, mudah-mudahan dapat memotivasi untuk berusaha lebih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>0leh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Jangan terlalu sedih dan kecewa, jika direndahkan oleh teman atau masyarakat lainnya, mana tahu dibalik pendakian ada penurunan. Asal ada usaha, Insya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan membukakan pintu rezki, simak perjalanqn hidup Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar yang satu ini, mudah-mudahan dapat memotivasi untuk berusaha lebih baik.</p>
<p>Terlahir sebagai anak “ Tukang Cendol” kadang kala terasa menyakitkan, meskipun tidak boleh disesali, karena kesemuanya itu kehendak dari Allah Yang Maha Kuasa. Kenapa tidak, ketika bersekolah di SMP Negeri Padang Ganting sering di ejek, direndahkan bahkan menjadi bahan tertawaan bagi teman-teman sekelas.</p>
<p>“Tabayak cindua waang beko atau tertumpah cendol kamu nanti,” demikian ucapan yang dilontarkan seorang teman saat istirahat, ketika saya duduk dibangku kelas II SMP. Sakit memang, tapi itulah sejarah kehidupan yang harus dilalui. Suka tidak suka, senang tidak senang itulah dinamika hidup yang harus dihadapi dengan tabah.</p>
<p>Sebagai seorang yang berada di lingkungan keluarga kurang mampu, hanya bisa berharap dan berusaha agar kehidupan masa depan lebih baik dari kehidupan orang tua. Salah satu jalan yang bisa ditempuh tentu harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan, melalui pendidikan formal maupun non formal.</p>
<p>Tekad untuk menggapai pendidikan semaksimal mungkin ini sempat tertegun, ketika ayah jatuh sakit di kampung tercinta, yakni di Tanjuang Limau Asam Nagari Kacang Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Usaha jualan cendol yang sudah beralih kepada emak saya automatis berhenti. Namun demikian, saya berpikir usaha ini tidak boleh macet, harus tetap dilanjutkan, jika ingin tetap melanjutkan sekolah atau pendidikan.</p>
<p>Walaupun sifatnya sementara, terpaksa saya libur sehari dalam seminggu, karena harus berjualan, menggantikan orang tua, mengingat berjualan di balai atau pasar Talawi tidak bisa “Disambilkan” karena harus berangkat di pagi hari. Sementara untuk pasar Padang Gantiang, masih bisa dilakukan sepulang sekolah.</p>
<p>Begitu tamat SMP di Padang Gantiang, keinginan untuk melanjutkan pendidikan cukup tinggi, walau hanya emak yang akan membiayai. Saya bersekolah di Kota Padang, memilih SMA Adabiah di Simpang Kandang. Cukup memprihatinkan juga, karena harus berjualan rokok pulang sekolah, lantaran biaya bulanan yang dikirim melalui bus Dasrat saat itu hanya Rp.5.000,- pada hal untuk uang sekolah saja sudah Rp.1.500,-</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2 </strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26760</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (8), Rafinos: Hobby Menulis Yang Tersalurkan</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-8-rafinos-hobby-menulis-yang-tersalurkan/26751/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 May 2026 23:31:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26751</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Meminjam istilah almarhum Ikasuma Hamid mantan Bupati Tanah Datar, jika ingin hidup lebih sejahtera harus berusaha dengan ekonomi berlapis. Barangkali itu pulalah yang menjadi motto hidup Wartawan Mesin Ketik Rafinos, S.Sos dalam perjalanan hidupnya. Disamping wartawan, isteri PNS bidang tenaga medis ia juga berusaha di sektor peternakan ayam pedaging, simak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Meminjam istilah almarhum Ikasuma Hamid mantan Bupati Tanah Datar, jika ingin hidup lebih sejahtera harus berusaha dengan ekonomi berlapis. Barangkali itu pulalah yang menjadi motto hidup Wartawan Mesin Ketik Rafinos, S.Sos dalam perjalanan hidupnya. Disamping wartawan, isteri PNS bidang tenaga medis ia juga berusaha di sektor peternakan ayam pedaging, simak pengakuannya berikut ini.</p>
<p>Diilahirkan disebuah desa kecil yang sejuk dan Asri dikaki bukit Saduali bernama Bukit Siangok bagian dari Jorong Pabalutan nagari Rambatan dan berbatasan langsung dengan ibukota kabupaten Tanah Datar Kota Batusangkar, kehidupan yang dijalani sama seperti anak-anak desa umumnya yang sarat dengan aktifitas bermain dan bersosialisasi dengan sebaya meskipun sedikit agak nakal, namun masih dalam batas kewajaran seorang anak laki-laki.</p>
<p>Setamat SMEA negeri Batusangkar tahun 1990 (seharusnya tamat tahun 1998 karena tinggal kelas dikelas 1 akibat nakal dan tudak niat juga sekolah disitu awalnya), niatnya ingin meneruskan kebangku kuliah, namun orang tua sudah wanti-wanti bahwa kemampuan ekonomi mereka hanya bisa untuk biaya kuliah di perguruan tinggi negeri dan tidak untuk Perguruan tinggi swasta.</p>
<p>Aku coba ikut tes masuk perguruan tinggi yang pada waktu itu jika tidak salah disebut Sipenmaru (Sistem penerimaan mahasiswa baru) dan aku gagal, maka aku niatkan untuk mencoba adu nasib dan peruntungan ke perantauan meskipun bapak saya menawarkan kerja dulu di kantornya Kandepag (kantor departemen agama) Kemenag sekarang karena sebentar lagi dia mau pensiun karena pada waktu itu masih berlaku sistem penggati orang tua, namun aku memang tidak berminat sama sekali kerja jadi PNS.</p>
<p>Awalnya aku mencoba untuk mencari pekerjaan di kota Padang, 2 bulan wara-wiri dengan menenteng map yang berisi Ijazah SLTA mencoba melamar ke perusahaan swasta dan hasilnya tidak ada yang mau menerima atau masih dalam daftar tunggu, Gagal di kota Padang, aku lanjut ke Pekanbaru, tepatnya ke Perawang yang waktu itu banyak Perusahaan dan pabrik-pabrik serta industri yang mempekerjaan ribuan tenaga kerja.</p>
<p>Aku masukkan lamaranku kesebuah pabrik besar waktu itu sebagai driver truk logging (truk besar pengangkut kayu) tapi malah aku ditawarkan jadi Security, aku menolaknya, untuk mengisi waktu aku nguli bangun pabrik baru, baru kerja 2 bulan aku berantem sama mandor dan manager karena dilarang pulang awal ketika hari Jum&#8217;at buat Jum&#8217;atan, akhirnya aku resign karena sudah menyangkut akidahku.</p>
<p>Lamaran belum juga keluar, aku lanjut ke Jambi dan sempat narik angkot selama 3 bulan yang akhirnya akibat berantem dengan preman pemalak aku baliak kampung dulu selama 1 bulan, kemudian aku melanjutkan perantauan ke Jakarta awal-awal tahun 1991.</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26751</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (7), Mittiarni: Jadi Wartawan Itu Asyik</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-7-mittiarni-jadi-wartawan-itu-asyik/26739/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2026 23:14:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26739</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Dari sejumlah wartawan yang masuk kategori Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar Luhak Nan Tuo, Mittiarni, S.Pd, MM merupakan salah seorang wartawati yang termasuk produktif dan sering menulis artikel yang mengedukasi masyarakat. Kini Kepsek SD Negeri 02 Labuah Kecamatan Lima Kaum ini masih tetap menulis, dengan media yang berbeda, simak perjalanan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Dari sejumlah wartawan yang masuk kategori Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar Luhak Nan Tuo, Mittiarni, S.Pd, MM merupakan salah seorang wartawati yang termasuk produktif dan sering menulis artikel yang mengedukasi masyarakat. Kini Kepsek SD Negeri 02 Labuah Kecamatan Lima Kaum ini masih tetap menulis, dengan media yang berbeda, simak perjalanan hidupnya untuk menjadi wartawan di Tanah Datar.</p>
<p>Siang itu ditahun 1986. Kabar baik menyapa ruang waktu yang telah lama kunantikan, yaitu pengumuman peserta terbaik pada Pelatihan Wartawan Cilik.Pelatihan itu yang diadakan oleh sekolahku SMA Gunung Talang Kabupaten Solok bekerjasama dengan Surat Kabar Harian HALUAN selama tiga hari.</p>
<p>Agus Usman adalah wartawan senior yanig dijadikan narasumber oleh guru bahasa indonesiaku waktu itu, bapak Wandra Ilyas.Dihari ketiga saat penutupan namaku, Mittiarni disebutkan sebagai penulis terbaik dengan judul tulisanku waktu itu adalah ”Aku Ingin Menjadi Wartawan”.</p>
<p>Tulisan itulah yang mengantarkan aku sampai di aula gedung Surat Kabar Harian Haluan lantai tiga, Jalan Damar nomor 11 Padang sebagai peserta Pelatihan Wartawan Cilik Tingkat Sumatera Barat yang diadakan oleh Surat Kabar Harian Haluan tersebut selama satu hari penuh.Pelatihan Sehari itu juga yang mempertemukan aku dengan seseorang bernama Benny Aziz.</p>
<p>Berperawakan besar tinggi dan hitam dengan suara keras, tegas, disiplin tinggi serta mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, membuat semangat menulisku menjadi terasah. Bersama beliau aku jadi wanita kuat, pemberani dan pintar dilapangan.</p>
<p>Aku diberi kesempatan untuk bergabung dengan wartawan cilik lainnya dikota Padang seperti Hasnah Candra Dewi, Frislidya, Wisma Suryanti dan lainnya.<br />
Setelah kuliah di Padang tahun 1990 aku dipercaya bergabung dengan Koran Masuk Desa ( KMD) Padang Pariaman bersama om Zulfahmi Zess.</p>
<p>Bergabung selama dua tahun disana. Tahun 1992 SK sebagai Guru Sekolah Dasar mengantarkan seorang Mittiarni bergabung dengan KMD Tanah Datar dibawah asuhan Bapak Indra Merdy.</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26739</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (6), Menriadi dari Penjual Es Keliling, PNS hingga Wartawan</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-6-menriadi-dari-penjual-es-keliling-hingga-wartawan/26725/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 May 2026 22:58:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26725</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Bagi anggota BKMT ( Badan Kontak Majelis Taklim) sosok yang satu ini boleh dibilang sudah tidak asing lagi, karena pria kelahiran Kota Padang Panjang memang dipercaya mengambil video setiap ada kegiatan di Luhak Nan Tuo. Namun siapa nyangka, jika kegian cigok mancigok ini diperoleh Menriadi selama bertugas di Bagian Humasy [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Bagi anggota BKMT ( Badan Kontak Majelis Taklim) sosok yang satu ini boleh dibilang sudah tidak asing lagi, karena pria kelahiran Kota Padang Panjang memang dipercaya mengambil video setiap ada kegiatan di Luhak Nan Tuo. Namun siapa nyangka, jika kegian cigok mancigok ini diperoleh Menriadi selama bertugas di Bagian Humasy (Hubungan Masyarakat) Setda Tanah Datar dan kegiatan itu pulalah yang mengantarkan dirinya menjadi Wartawan Mesin Ketik Tansh Datar, simak pengakuannya dibawah ini.</p>
<p>Kota Dingin Padang Panjang adalah tempat saya dilahirkan 21 November 1970, disebuah pondo kayu kecil yang terletak di Kelurahan Ganting Nagari Gunung kecamatan Padang Panjang Timur ,saya anak.ke lima dari lima.bersaudara yang dibesarkan dalam keluarga yang serba kekurangan namun penuh kasih sayang.</p>
<p>Pendidikan pertama saya dimulai dari SD negeri 03 Ganting Gunung,dianjutkan ke SMP negeri Gunung dan SMA Sore Padang Panjang serta S1 Ekonomi.Manajemen pada UMMY Batusangkar.</p>
<p>Dengan.keterbatasan ekonomi,sejak.kecil naluri saya selalu ingin membantu meringankan beban orang tua,segala macam usaha saya cobo mulai dari menjual tabu batuntuang (tebu potong ) lilin,kembang api,permen hadiah pada malam bulan Ramadhan,untuk.membeli barang dagangan saya jalan kaki ke pasar karena tidak ada uang untuk ongkos.</p>
<p>Disaat liburan sekolah saya bekerja disawah orang ( Baronde), menjajalkan es keliling di kampung,berkuli hingga berdagang pada toko.sepatu dan baju sebagai pelayan toko,semua itu saya lakukan demi.mendapatkan penghasilan halal.untuk memenuhi kebutuhan.hidup.</p>
<p>Ketika saya duduk.di bangku kelas 1.SMP. ayah meninggalkan kami untuk selama nya dan saat saya masih duduk dibangku SMA ibu mulai sakit dan terus melemah dan akhirnya meninggal dunia.14.Agustus 1992 dirumah sakit Ibnu Sina Padang Panjang.</p>
<p>Saya selaku anak. bungsu bersama kakak ketiga yang melepas kepergian Ibu, sebelum beliau meninggal Almarhumah ibu berpesan &#8221; Seandainya tidak.diterima jadi PNS &#8220;pergilah merantau jangan sampai hidup menderita dikampung sendirian,&#8221; kata ibu dan hanya karena kerja semrautan..pesan ini selalu terngiang ngiang di benak saya dan menjadi penyemangat hidup bagi saya.</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26725</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (5), Maizar Rangkuty Wartawan dan Komentator Singgalang</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-5-maizar-rangkuty-wartawan-dan-komentator-singgalang/26717/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 23:16:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26717</guid>

					<description><![CDATA[0Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar yang satu boleh dibilang cukup terkenal, karena kepiawaiannya memainkan tut mesin ketik, dengan tulisan-tulisan yang menarik simpati para pembaca. Barangkali itu pulalah yang menyebabkan Bupati Tanah Datar Ikasuma Hamid (Alm) menjadi ia sebagainanak emas dan selalu bertanya, jika Maizar Rangkuty tak kelihatan dalam satu acara, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>0Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar yang satu boleh dibilang cukup terkenal, karena kepiawaiannya memainkan tut mesin ketik, dengan tulisan-tulisan yang menarik simpati para pembaca. Barangkali itu pulalah yang menyebabkan Bupati Tanah Datar Ikasuma Hamid (Alm) menjadi ia sebagainanak emas dan selalu bertanya, jika Maizar Rangkuty tak kelihatan dalam satu acara, berikut sebahagian ulasan tentang Maizar Rangkuty.</p>
<p><strong>Wartawan Ototidak</strong></p>
<p>Tanpa pernah mengikuti pelatihan atau kursus jurnalistik, saya berkesempatan mengarungi dunia jurnalistik selama 20 tahun, dari tahun 1984 hingga 2004, sebagai wartawan di Harian Singgalang. Saya mengalami langsung perubahan zaman: dari era wartawan yang mengetik berita dengan mesin ketik, lalu<br />
beralih ke komputer/laptop, hingga kini ke ponsel Android.</p>
<p>Pengiriman berita pun berevolusi, dulu melalui kurir, sopir bus AKDP, dan agen koran; kemudian menggunakan faksimile dan telepon; hingga akhirnya melalui email. Pada era 1990-an, jika ada pertandingan sepak bola di Batusangkar, setelah pertandingan usai, beritanya harus segera dikirim ke redaksi menggunakan jasa telepon interlokal PTD di Kantor Telkom Batusangkar.</p>
<p>Saya lupa kepanjangan PTD, tetapi yang saya ingat, pembayaran telepon interlokalnya dilakukan di tempat yang dituju. Kita melapor terlebih dahulu ke petugas Telkom bahwa ingin menggunakan layanan interlokal.</p>
<p>Petugas lalu menghubungi redaksi koran, menginformasikan bahwa ada permintaan PTD dari wartawan di Batusangkar. Jika redaksi menyetujui, barulah kita langsung berbicara dengan redaksi. Wartawan era 2000-an tentu tidak lagi mengenal cara lama seperti ini.</p>
<p>Sejak duduk di bangku SD, saya memang sudah gemar membaca dan menulis (mengarang). Sebelum benar-benar terjun ke dunia jurnalistik, beberapa cerita anak, cerpen remaja, dan artikel yang saya tulis sudah pernah dimuat di<br />
koran Singgalang, Haluan, dan Semangat, tiga koran besar di Sumatera Barat pada awal 1980-an.</p>
<p>Kemudian, tulisan saya juga mulai dimuat di Mingguan Canang. Pada triwulan terakhir tahun 1984, saya resmi bergabung sebagai wartawan di Harian Singgalang.</p>
<p>Sebagai wartawan otodidak, hingga akhir 1985 saya hampir tidak mengenal sosok-sosok wartawan di Tanah Datar. Suatu hari di awal 1986, secara tidak sengaja saya bersua dengan Kepala Bagian Humas Pemda Tanah Datar saat itu, N. Dt. Panduko, SH, dalam sebuah acara Musyawarah Pembangunan Desa<br />
(Musbangdes).</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL.2</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26717</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (4), Kasdi Ray, SH dari Petinju ke Wartawan</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-4-kasdi-ray-sh-dari-petinju-ke-wartawan/26703/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2026 23:57:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26703</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Bila dilihat dari berbagai sosok Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar, ternyata berangkat dari latar belakang yang beranekaragam, mulai dari pengangguran, PNS dan Wiraswasta. Sementara sosok yang kita tampilkan hari ini adalah Kasdi Ray, SH yang sebelumnya petinju terkenal di Luhak Nan Tuo dan Sumatera Barat pada umumnya. Jauh berjalan banyak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Bila dilihat dari berbagai sosok Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar, ternyata berangkat dari latar belakang yang beranekaragam, mulai dari pengangguran, PNS dan Wiraswasta. Sementara sosok yang kita tampilkan hari ini adalah Kasdi Ray, SH yang sebelumnya petinju terkenal di Luhak Nan Tuo dan Sumatera Barat pada umumnya.</p>
<p>Jauh berjalan banyak dilihat,lama hidup banyak dirasa.Hidup itu penuh misteri rezeki maut sudah ada yang mengatur, itulah sisi kehidupan Kasdi Ray yang dilahirkan di Bukitinggi 27 Juli 1966, Wartawan Mingguan Rakyat Sumbar dan media online Jurnal Minang untuk daerah Kabupaten Tanah Datar ,semasa kecil hingga remaja dihabiskan di SDN 3 Ateh Ngarai,SMP PSM Bukittinggi,SMKN 1 Payakumbuh ,hingga S1 Ilmu Hukum di UMMY Solok tahun 2003.</p>
<p>Ketika masih aktif menjadi petinju cukup rajin berlatih tinju, dengan tekun hasilnya cukup memuaskan mulai berlatih di Sasana Tinju Agam Tiger Bukittinggi tahun 1984 yang dibina Marlis.</p>
<p>Memulai naik ring sebagai petinju mengikuti eksibisi tinju amatir di Hall Ateh Ngarai Bukittinggi tahun 1985 menang KO atas petinju Kota Padang ,kemudian ikut Porda 1 Sumbar tahun 1986 di Padang kelas Layang Ringan 45 kg mewakili Kabupaten Agam meraih medali perak.</p>
<p>Keinginan meningkatkan keahlian cabang olahraga tinju cukup besar, Kasdi Ray remaja kemudian pergi berlatih di Surakarta sembari mengikuti kakak Supardi yang bekerja di Monomen Pers Nasional.</p>
<p>Dengan modal nekat lalu pindah ke sasana Tinju Putra Tauladan Kebumen 1986 yang dilatih Hang Hatoyo ,setelah digebleng latihan 2 kali sehari serta ilmu yang didapat serasa cukup kemudian pulang dari Kebumen kerumah di asrama Kodim 0304 Sapiran Birugo Bukittinggi.</p>
<p>Menjelang tahun 1987 mengikuti seleksi tim Porda 2 sumbar di bukittingi dan berhasil menang KO atas lawannya, kemudian bergabung dengan sasana Tinju Mersi (Merapi Singgalang ) dibawah binaan Daniel berhasil meraih medali emas pada Porda II Sumatera Barat di Bukittinggi.</p>
<p>Dalam kesempatan sekaligus menerima tropi dari Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin predikat petinju pavorit Kelas Layang 48 kg, .kemudian tahun 1988 mengikuti Kejurda Tinju Amatir di Payakumbuh kembali meraih medali emas di kelas terbang 51 kg .</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26703</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawsn Mesin Ketik Tanah Datar (3), Elfiardi, SH: Wartawan Perjuangan Idealis</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-3-elfiardi-sh-wartawan-perjuangan-idealis/26698/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 22:55:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26698</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Bagi saya menjadi wartawan adalah suatu keberlanjutan perjuangan dari sebuah idealisme. Muda dan berstatus mahasiswa senior ketika berlangsungnya gejolak reformasi telah mengantarkan saya dan kawan-kawan para organistoris OKP ekstra kampus menjadi aktivis jalanan kala itu. Jauh sebelum reformasi, kami para “mahasiswa” telah membekali diri dengan literasi-literasi kebangsaan, baik yang berstatus [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Bagi saya menjadi wartawan adalah suatu keberlanjutan perjuangan dari sebuah idealisme. Muda dan berstatus mahasiswa senior ketika berlangsungnya gejolak reformasi telah mengantarkan saya dan kawan-kawan para organistoris OKP ekstra kampus menjadi aktivis jalanan kala itu.</p>
<p>Jauh sebelum reformasi, kami para “mahasiswa” telah membekali diri dengan literasi-literasi kebangsaan, baik yang berstatus halal maupun yang diharam jadahkan oleh penguasa orde baru, sehingga ketika genderang reformasi ditabuhkan, literasi-literasi itu berwujud menjadi asa perjuangan yang meski diwujudkan untuk masa depan negara tercinta ini.</p>
<p>Menjadi bagian dari aktivis Angkatan ’98 menjadi afirmasi positif bagi saya untuk memasuki dunia jurnalistik, dunia yang saya percaya bakal memberi jalan untuk mengambil peran walapun kecil, melanjutkan terus perjuangan reformasi yang masih seumur jagung. Ya dipertengahan 1999, saya memutuskan hijrah ke pulau Batam.</p>
<p>Untuk sebuah idealisme, saya mengenyampingkan tawaran menjadi PNS, dari seorang senior yang kebetulan sedang “mamacik” di Biro kepegawaian Ketika itu. Di kota Batam, dengan berbekal ijazah Sarjana Hukum, saya berhasil memasuki gerbang jurnalistik.</p>
<p>Di kota Industri itu saya diterima sebagai Reporter di “Harian Sijori Pos” sebuah Surat Kabar milik grup media nasional terbesar Ketika itu, Jawa Pos News Network (JPNN) dengan jumlah koran dan majalah lebih dari 150 penerbitan.</p>
<p>Walau sudah berstatus seorang jurnalis, idealisme sebagai mantan aktivis kampus ternyata tidak pudar, jiwa perjuangan saya muncul dalam pemberitaan, begitu melihat ada masyarakat tertindas, akibatnya saya yang berstatus wartawan muda ketika itu dipanggil khusus oleh oknum penguasa lokal akibat pemberitaan yang saya tulis, tujuan pemanggilan saya adalah untuk mengarahkan pemberitaan sesuai keinginan mereka.</p>
<p>“Kalau pemberitaan kamu seperti ini, kami berhak mengusir kamu dari daerah ini, karena ini daerah khusus, ” ancam si oknum, Ancaman ini disampaikan ketika saya memasuki ruang kerja si Oknum yang cukup mentereng. Walau ketika itu reformasi sudah bergulir, intimidasi pers ala-ala orba masih terlihat.</p>
<p>Tidak begitu lama di Sijori Pos, saya harus pulang kampung untuk sebuah pengabdian kepada orang tua, karena orang tua jatuh sakit.Dari Wartawan Dunia Gaib ke Wartawan Berdarah-darah.</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>SELANJUTNYA HAL.2</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26698</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar  (2), Efrison, SE: Kartu PWI Bisa, Karena Terbiasa</title>
		<link>https://sabanakaba.com/baru/kiprah-wartawan-mesin-ketik-tanah-datar-2-efrison-se-kartu-pwi-bisa-karena-terbiasa/26683/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin SabanaKaba]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 23:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Kab. Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Nan Tacelak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sabanakaba.com/?p=26683</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : WIRMAS DARWIS, SE Sosok wartawan mesin ketik yang satu ini memang agak lain dari yang lain, disamping tampang gagah, ia kalau bekerja selalu jelimet dan hati-hati. Barangkali itu pula yang menyebabkan Efrison, SE dimana saja bekerja senantiasa membuahkan hasil, mulai dari Humas merangkap Wartawan hingga menjadi Kabid Pariwisata Dinas Parpora Tanah Datar, Sekretaris [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : WIRMAS DARWIS, SE</strong></p>
<p>Sosok wartawan mesin ketik yang satu ini memang agak lain dari yang lain, disamping tampang gagah, ia kalau bekerja selalu jelimet dan hati-hati. Barangkali itu pula yang menyebabkan Efrison, SE dimana saja bekerja senantiasa membuahkan hasil, mulai dari Humas merangkap Wartawan hingga menjadi Kabid Pariwisata Dinas Parpora Tanah Datar, Sekretaris Dinas Nakerin Tanah Datar pertama dan sekarang Sekretaris Dinas Kominfo Tanah Datar.</p>
<p>Dunia ini panggung sandiwara<br />
Ceritanya mudah berubah<br />
Kisah Mahabrata<br />
Atau tragedi dari Yunani<br />
Setiap kita dapat satu peranan<br />
Yang harus kita mainkan<br />
Ada peran wajar<br />
Dan ada peran berpura-pura</p>
<p>Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak<br />
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang<br />
Dunia ini penuh peranan<br />
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan</p>
<p>Lirik lagi Nike Ardila dengan Panggung Sandiwaranya memang sesuai dengan jalan hidup yang saya lalui, tak terbayangkan dari kecil peranan yang dilewati di masa depan.</p>
<p>Sebelumnya tak pernah terbayangkan punya kartu dan menjadi anggota PWI, karena sering melaksanakan tugas yang berhubungan dengan jurnalistik, akhirnya menjadi anggota PWI, seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air, pekerjaan utama sebagai penyampai informasi pembangunan daerah, juga menjadi juru kuli tinta.</p>
<p>Pendidikan dimulai dari SD, SMP, SPP Snakma, Universitas Muhmmad Yamin. Berbagai profesi juga sudah dilewati diantaranya Petani, Tukang bangunan, Penjual tiket Bioskop, Pedagang.</p>
<p>Karir sebagai PNS diawali dengan mengikuti tes penerimaan Pegawai Negeri pada Maret 1994, dengan pilihan pekerjaan Penyuluh Peternakan, sesuai dengan pendidikan di Sekolah Menengah Peternakan Padang Mangatas Payakumbuh.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>SELANJUTNYA HAL. 2</strong></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26683</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
