Kampung “Sarugo” Wisata Koto Tinggi Antara Kelebihan dan Kekurangannya

0
453

Oleh : WIRMAS DARWIS, SE

Ketika membaca diberbagai mass media ada kampung wisat7a Sarugo (Seribu Gonjong) di Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten 50 Kota kontan saja terbayang sebuah objek wisata Van House Lembang Jawa Barat. Sebelum memasuki kawasan ini didalam pemikiran akan ada suguhan makanan yang ditukarkan dengan karcis masuk, ada rumah tempo doeloe dan lain-lain.

Ketika menempuh jarak sekitar 41 KM dari Kota Payakumbuh, menelusuri jalan yang sebahagian sudah diaspal mulus dan sebahagian sudah hancur, ternyata apa yang ditemui masih jauh dari yang dibayangkan semula. Kampung “Sarugo” Wisata Koto Tinggi masih berada antara kelebihan dan kekurangannya.

BACA JUGA : Kapan Berakhir, Hari Ini 45 Warga Tanah Datar Terkonfirmasi Positif Covid-19

Berangkat dari nama Sarugo atau singkatan dari Saribu Gonjong, Koto Tinggi memang memiliki rumah adat Minang Kabau yang bergonjong lima. Meskipun tidak beratapkan ijuk alias beratapkan seng, setidaknya sudah menggambarkan ciri khas Minang Kabau.

Situs resmi Pemprov Sumatera Barat sumbarprov.go.id menyebutkan, di Kampung Sarugo Koto Tinggi terdapat 29 Rumah Gadang dengan ukuran 5 x 16 meter. Hampir setiap rumah memiliki gonjong lima yang juga diartikan sebagai rukun Islam ada Lima atau mencerminkan masyarakat setempat selain memiliki adat budaya juga penganut agama Islam yang taat.

Ketika kru sabanakaba.com berkunjung ke Kampung Sarugo Koto Tinggi Rabu 2 Juni 2021 sempat mengunjungi sebuah panorama yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Menelusuri jalan sekitar 300 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter, kita akan sampai pada suatu tempat dengan view atau pemandangan cukup bagus.

Diketinggian berdiri beberapa kopel yang belum tertata dengan baik, bahkan tempat wisatawan mengambil foto pemandangan bangunnya belum memiliki atap. Lantainya juga terbuat dari papan dan bambu yang dikhawatir tak mampu menampung pengunjung dalam jumlah banyak.

Di lokasi ini pemandangannya memang cukup bagus, karena dari sini tampak pemukiman warga dengan puluhan rumah bagonjongnya serta hamparan sawah di kejauhan. Namun amat disayangkan disekitar kopel ini dari sejak dulu hingga beberapa waktu belakangan dimanfaatkan warga setempat untuk pandam perkuburan.

Jika panorama ini akan dikembangkan sebagai salah satu tujuan wisata ke Kampung Sarugo memang agak sulit, karena lahan yang ada sudah ditempati oleh pemakaman warga dan makam ini jelas tidak mungkin dipindahkan ke tempat lain, mengingat dijadikan pandam perkeburan oleh warga setempat.

Kemudian lapangan parkir kendaraan roda empat cukup terbatas sekali, sehingga jika kendaraan terlalu banyak terpaksa parkir dipinggir jalan yang juga tidak terlalu lebar. Belum lagi masalah perut, karena di objek wisata ini memang belum ditenui rumah makan layaknya di objek wisata.

Lantas apa lagi yang bisa dijadikan daya tarik untuk wisatawan berkunjung ke Kampung Sarugo, untuk diketahui sinyal dari berbagai kartu handphone boleh dikatakan tidak ada, agar kawasan ini tetap diminati para wisatawan? Sebenarnya ada, disekitar kawasan Kampung Sarugo terdapat banyak kebun jeruk manis yang rasanya juga manis.

Biasanya para wisatawan dapat memetik sendiri jeruk manis ini pada pohonnya yang tidak terlalu tinggi. Pengunjung dapat memilih jeruk yang disukai, kemudian sesudah memetik sesuai kebutuhan diserahkan kepada pemilik kebun untuk ditimbang. Harganya juga tidak terlalu mahal, mulai dari Rp.10.000,- per Kg. tergantung besar kecil buah jeruk manis yang dipetik.

Demikian sekelumit kabar wisata kita kali ini tentang Kampung Sarugo Koto Tinggi, selamat berwisata dan jangan lupa tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti yang dipajang dalam bentuk spanduk sticker dibeberapa tempat menjelang Kampung Sarugo.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here