Balai Wartawan yang berdiri di sudut pintu masuk pasar Batusangkar, tepatnya di sudut Pusat Pertokoan Pertiwi. Sekarang telah jadi musala, adalah tempat paling bersejarah dalam perjalanan kewartawananku.
Gedung Balai Wartawan waktu itu adalah sebuah rumah dengan satu kamar untuk pimpinan redaksi , satu buah ruang tengah berbentuk later L dijadikan ruang bekerjanya para wartawan dengan beberapa satu mesin ketik disetiap meja.
Dibagian belakang ada sebuah ruangan untuk ruang bicara empat mata bagi wartawan yang perlu diskusi tentang berita yang akan ditulis, seperti berita kriminal atau berita yang bersifat politik atau berita tentang seorang pejabat yang sedang naik daun atau turun asap.
Terus kebelakangnya ada lorong panjang yang biasanya dijadikan ruang pentry dan gudang penyimpanan sesuatu bagi semua wartawan dari semua media yang ada waktu Itu seperti media Haluan, Singgalang, Semangat, Canang.
Waktu itu semua wartawan bergabung dalam satu wadah komunitas yaitu PWI Persatuan Wartawan Indonesia dengan Darmawanitanya bernama IKWI Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia. Dalam wadah PWI/ IKWI semua aktifitas semua waratawan dapat terpantau, damai dan antar wartawan saling mendukung untuk dapat lebih maju dan tulisannya berkembang kearah yang lebih cerdas dan mewakili visi surat kabarnya masing-masing.
Dalam kantor tersebut tercipta cerita dan berita dari semua wartawan dari semua surat kabar, ruang diskusi selalu padat dengan topik hangat, terutama di lakukan oleh para senior seperti Pak Gatot, Datuak Amga, Mister Tibb dan Maizar Rangkuty. Baru diikuti oleh para senior berikutnya seperti Syafran Tamsa, Wede, Emrizal dan lainnya.
Diperjalanan menulis selanjutnya, KMD Haluan menjadi media pilihanku maka tulisanku lebih fokus pada gaya bahasa selingkung Surat Kabar Haluan yang waktu itu bekerjasama dengan Pemda Tanah Datar. Berita yang ditulis lebih mengedepankan pembangunan kecamatan yang menjadi wilayah tanggungjawabku.
SELANJUTNYA HAL. 3






























