Tentu topik ini menjadi isu seksi kala itu, dan saya mengunakan telepon rumah, lansung mengkonfirmasi isu yang berkembang ditenggah-tenggah masyarakat tersebut.Besoknya headline berita tentang oknum polisi yang membeking judi ambuang menjadi headline di Harian Sumbar Mandiri.
Hal ini membuat oknum polisi itu meradang, akhirnya meminta keterangan saya selaku wartawan terkait berita tersebut, tetapi Pimred Harian Sumbar Mandiri Zul Effendi SH melarang saya untuk menghadiri surat pangilan dari polisi itu. Zul Effendi menyampaikan setiap berita yang sudah dimuat, sudah tidak menjadi tanggung jawab wartawan.
Setiap hari polisi silih berganti datang kerumah orang tua saya bahkan ada yang melontarkan ancaman, setelah mendapatkan izin dari Pimred Sumbar Mandiri dan didampingi kedua orang tua dan hampir seluruh warga kampung tempat saya tinggal, saya mendatangi Polres Tanah Datar.
Halaman Polres Tanah Datar dipenuhi warga Kelurahan Bukit Gombak (sistem pemerintahan ketika itu belum kembali ke Pemerintahan Nagari), andai ketika itu ada penyamun yang datang ke kampung saya, mungkin penyamun itu akan leluasa mengambil barang-barang berharga milik masyarakat.
Dampak pemanggilan saya malam itu, besok harinya Pimred Harian Sumbar Mandiri bertindak cepat sehingga seluruh Pimred media cetak yang ada pada masa itu memboikot berita Polri untuk Sumbar, Riau dan Kepri.
Sebelumnya sejumlah wartawan dikepung masa di Jorong Gunung Kecamatan Salimpung (Kecamatan Salimpaung belum dipecah dengan Kecamatan Tanjung Baru), gara-gara ada wartawan yang salah menulis berita tentang pemuda di Jorong Gunung yang meninggal yang diduga oleh luka tembak, tapi di tulis luka tusuk, tetapi saya bukan wartawan yang ikut dikepung masa, karena masyarakat tahu bukan saya wartawan yang menulis berita tersebut.
Saya juga wartawan yang hampir tertembak saat tragedi saruaso berdarah pada tahun 2002. Dalam tragedi itu dikabarkan dua warga meninggal dunia dan sekitar tujuh orang mengalami luka tembak.
Saat itu begitu mencekam, ruas jalan menuju Saruaso itu dari arah Batusangkar melewati Pagaruyung tidak bisa dilewati oleh kenderaan bermotor, warga menebang kayu disepanjang ruas jalan itu dan membiarkan pohon-pohon kayu yang cukup besar itu menghalangi jalan, ada puluhan pohon kayu yang dipotong masyarakat ketika itu.
SELANJUTNYA HAL. 3






























