Meski ruas jalan dari arah Kelurahan Bukit Gombak tergolong aman, tetapi mulai dari pertigaan Bukit Gombak, Pagaruyung dan Saruaso dijaga ketat warga, tidak ada yang boleh masuk ke Saruaso kecuali warga setempat, beruntung yang menjaga berbatasan itu mengenal saya, sehingga bisa masuk dengan diantar salah seorang warga ke kantor Polsek Tanjung Emas, meski ada insiden penodongan senjata pada saat itu pada saya.
Berada ditenggah konflik, bagi kami jurnalis, ketika itu merupakan hal biasa, dan harus punya seni dalam menghadapi setiap resiko dari profesi yang sudah dipilih.
Godaan yang paling berat saat menjadi wartawan di Era Mesin Ketik adalah banyaknya sogokan dengan menawarkan barang-barang berharga mulai dari HP, uang dan barang-barang berharga lainnya, beruntung saya tidak tergoda dengan berbagai tawaran itu, meski ada orang yang dikirim silih berganti ke rumah orang tua saya.
Dalam menekuni dunia jurnalistik, saya menyukai menulis feature atau human interest, saya juga senang menulis tentang budaya sehingga dinobatkan sebagai penulis feature terbaik saat festival pesona budaya Minangkabau tahun 2017.
Sampai saat ini saya masih ingat pesan Tatang Istiawan ketika itu ia menjabat Litbang Kompas mengatakan seorang wartawan harus rajin membaca minimal satu buku, sejak itu saya jadi pecinta buku, setiap hari saya selalu membaca dan membaca untuk meningkatan sumber daya saya selaku wartawan yang belajar secara otodidak.
Disamping itu saya juga belajar idealis dari teman-teman aktifis, saat menulis tidak ada tawar menawar bagi saya, meski sering dapat ancaman. Selama kita menulis sesuai kode etik wartawan dan melakukan cek and ricek maka itu tidak akam membahayakan.
Bertemu PM Malaysia dan Tokoh-Tokoh Nasional
Profesi jurnalistik ini juga menghantarkan saya bertemu tokoh-tokoh hebat di Indonesia bahkan Perdana Menteri Malaysia Tun Mahathir Mohammad, andai saya bukan wartawan, mungkin saya tidak akan pernah bertemu dengan orang-orang hebat itu.
Saya bertemu TUN ketika diundang untuk meliput kegiatan olahraga Langkawi International Mountaine Bike Challenge 2011, Saya mempelototi undangan liputan itu setenggah tidak percaya percaya. Bagaimana mungkin saya wartawan dari kota kecil mendapat kehormatan untuk liputan event sebesar itu.
SELANJUTNYA HAL. 4





























