Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (10), Destia Sastra Wartawan Idealis dari Ranah Minang

0
36

Saya mulai terjun menjadi wartawan dan tergabung di wartawan koran masuk desa Harian Haluan Tanah Datar pada tahun 1996 hingga tahun 2000, tahun 2000 hingga 2003 wartawan Sumbar Mandiri, selanjutnya menjadi wartawan pada beberapa media cetak, tahun 2011 menjadi redaktur koran cetak Riau Pesisir tahun 2014 – 2015 mengelolah media Seknas FKKM.

Saat mengelolah media Seknas FKKM saya juga sering mewakili Sekjen FKKM Andri Santosa untuk menghadiri rapat-rapat dibeberapa kementerian salah satunya Kementerian Kehutanan.Di Kementerian Kehutanan ini saya mengetahui tentang skema pengelolahan kehutanan seperti hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat, hutan adat dan kemitraan kehutananan.Data yang saya dapat itu kembali diolah dan diposting di web FKKM, begitu juga data-data lainnya.

Saya sering mewakili Seknas FKKM menghadiri rapat pengelolahan karbon di Gedung Mayapada, pertemuan itu membahas tentang perdagangan karbon.
Tahun 2016 mendirikan media bakaba.net bersama Wirmas Darwis, Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si dan Drs Nurmatias, media online dibawah naungan perusahaan PT Bakaba Inti Media itu masih eksis hingga saat ini.

Pada tahun 2006 – 2009 saya menjadi Field officer kegiatan PBET yang didanai oleh Bank Dunia melalui NDI. Saat menjalankan Program PBET saya dan sembilan penulis lainnya pada Mei 2007 menulis buku Anggaran Rensonsif Gender Konsep dan Aplikasi. Buku tersebut dicetak kerjasama Bank Dunia dengan Civic Education and Budget Transparency Advocacy (CiBa) dengan The Asia Foundation dan Canada.

Selama menjalankan program PBET saya dibantu seorang asissyen mendorong pemerintah daerah untuk transparan dalam mengelolah keuangan juga mendorong masyarakat berpartisipasi secara lansung terlibat dalam proses penganggaran, pembangunan dan mengawasi pengunaan anggaran dengan melakukan tracking anggaran.

Sejumlah pelatihan saya gelar waktu itu agar masyarakat melek anggaran dan kantor CiBa ketika itu buka 24 jam, tapi lebih sering masyarakat datang malam untuk mendiskusikan terkait penyusunanan anggaran, penelusuran anggaran bahkan mendiskusikan hal lainnya yang berkembang ditenggah-tenggah masyarakat.

Sangatlah tidak mudah waktu itu mendorong agar pemerintah terbuka dalam mengelolah keuangan daerah, tetapi karena Pemerintah Tanah Datar waktu itu bupatinya M. Shadiq Pasadigoe berkomitmen untuk transparan dalam mengelolah keuangan daerah, sehingga selama program kita berhasil menyederhanakan APBD dan dicetak dalam bentuk poster dan booklet dengan jumlah ratusan eksemplar untuk dibagikan pada masyarakat.

Saya waktu itu juga mencetak APBD yang disederhanakan pada Poster berukuran besar dan ditempel dilokasi-lokasi strategis agar masyarakat bisa melihat APBD dan tentunya mengunakan bahasa sederhana yang gampang dipahami masyarakat.

Selama bergabung di CiBa setidaknya ada dua buku yang sudah diterbitkan, buku itu berjudul “Anggaran Responsif Gender”, dan “Jejak Advokasi di Tanah Datar, buku tersebut diterbikan oleh CiBa, The Asia Foundation dan Canada.

Sementara perjalanan program di Tanah Datar itu juga diterbikan dalam dua bahasa, satu bahasa Cina (Presentasi buku saat itu di Cina) dan Bahasa Inggris. Salah satu buku dalam bahasa Cina saya serahkan ke M. Shadiq Pasadigie sebagai kenang-kenangan.Saya juga menjadi salah seorang perumus Perda Transparansi Kabupaten Tanah Datar pada masa Bupati Masriadi Martunus.(Bersambung)