Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (9),Wirmas Darwis, SE: Dendam Kehidupan Membawa Berkah, Jadi Wartawan Suatu Pilihan

0
227

Berkat keyakinan dan selalu bekerja keras, Saya tamat juga di SMA Adabiyah Padang tahun 1976. Sebenarnya, keinginan untuk menyambung ke Perguruan Tinggi cukup tinggi, tetapi karena tidak didukung biaya, terpaksa mencari pekerjaan terlebih dahulu. Entah memang kesempatan kerja yang terbatas, entah rezeki yang belum ada, hingga tahun 1980 masih menganggur dan memutuskan berangkat menuju Duri Riau sampai akhirnya bekerja di toko bangunan di Dumai.

Hanya sekitar 1,5 tahun di Dumai, ada informasi penerimaan Tenaga Honorer untuk dijadikan sebagai Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) Perindustrian di Dinas Perindustrian Provinsi Sumatera Barat. Ketika mengikuti seleksi, dinyatakan lulus, dengan catatan harus membuat surat pernyataan tidak akan menuntut menjadi PNS. Sejumlah anak pengrajin industri ada sebahagian yang mengikuti Diklat di Medan Sumatera Utara dan ada sebahagian di Padang.

Kebetulan saya mendapat pendidikan di Kota Medan, bersama kawan dari daerah lainnya di pulau Sumatera. Waktu pendidikan di Medan ini lah tercetus keinginan untuk menjadi wartawan, setelah sampai di daerah masing-masing. Saya menyempatkan diri membeli sebuah kamera, lebih besar sedikit dari kotak korek api, untuk pendukung profesi wartawan kelak.

Sepulang dari Medan, pekerjaan sebagai TPL tetap lanjut, sementara Harian Haluan Padang menjalin kerja sama dengan Pemkab Tanah Datar berkaitan dengan Koran Masuk Desa (KMD). Pucuk dicinta ulampun tiba, saya langsung bergabung dengan media tersebut yang waktu itu calon wartawan direkrut oleh Syukril Syukur, Zulfahmid/Zess, Indra Merdi dan Imral Mansur.

Menjadi wartawan ternyata tidak semudah yang dibayangkan, Redaktur Pelaksana Zulfahmid/Zess, termasuk keras dalam mencetak wartawan. Sudah keluar keringat membuat berita dengan mesin ketik, sang redaktur malah merobeknya.”Ulangi lagi, masak kayak begini membuat berita,” tutur Zess bersamaan dengan merobek berita yang saya buat.

Perjalanan waktu bergabung dengan Edisi Desa Haluan semakin mematangkan diri untuk terus menekuni profesi wartawan. Berbagai suka dan duka terus dilalui, seiring dengan pekerjaan sebagai Penyuluh Industri. Ketika Pimpinan Proyek BIPIK Sumbar yang mengayomi TPL memiliki Program Studi Banding ke Jawa Timur dan Bali tahun 1984, saya terpilih bersama empat orang teman lainnya yang kini sebahagian diantarnya sudah meninggal dunia.

Bergelut dengan Profesi Wartawan semakin mengasyikkan, ketika waratawan diberi kesempatan mengikuti Kunker (Kunjungan Kerja) bersama Anggota DPRD Tanah Datar ke berbagai daerah dan kota di Indonesia, mengingat selain dapat melihat negeri orang, kantong juga berisi uang.

SELANJUTNYA HAL. 3