0leh : WIRMAS DARWIS, SE
Jangan terlalu sedih dan kecewa, jika direndahkan oleh teman atau masyarakat lainnya, mana tahu dibalik pendakian ada penurunan. Asal ada usaha, Insya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan membukakan pintu rezki, simak perjalanqn hidup Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar yang satu ini, mudah-mudahan dapat memotivasi untuk berusaha lebih baik.
Terlahir sebagai anak “ Tukang Cendol” kadang kala terasa menyakitkan, meskipun tidak boleh disesali, karena kesemuanya itu kehendak dari Allah Yang Maha Kuasa. Kenapa tidak, ketika bersekolah di SMP Negeri Padang Ganting sering di ejek, direndahkan bahkan menjadi bahan tertawaan bagi teman-teman sekelas.
“Tabayak cindua waang beko atau tertumpah cendol kamu nanti,” demikian ucapan yang dilontarkan seorang teman saat istirahat, ketika saya duduk dibangku kelas II SMP. Sakit memang, tapi itulah sejarah kehidupan yang harus dilalui. Suka tidak suka, senang tidak senang itulah dinamika hidup yang harus dihadapi dengan tabah.
Sebagai seorang yang berada di lingkungan keluarga kurang mampu, hanya bisa berharap dan berusaha agar kehidupan masa depan lebih baik dari kehidupan orang tua. Salah satu jalan yang bisa ditempuh tentu harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan, melalui pendidikan formal maupun non formal.
Tekad untuk menggapai pendidikan semaksimal mungkin ini sempat tertegun, ketika ayah jatuh sakit di kampung tercinta, yakni di Tanjuang Limau Asam Nagari Kacang Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Usaha jualan cendol yang sudah beralih kepada emak saya automatis berhenti. Namun demikian, saya berpikir usaha ini tidak boleh macet, harus tetap dilanjutkan, jika ingin tetap melanjutkan sekolah atau pendidikan.
Walaupun sifatnya sementara, terpaksa saya libur sehari dalam seminggu, karena harus berjualan, menggantikan orang tua, mengingat berjualan di balai atau pasar Talawi tidak bisa “Disambilkan” karena harus berangkat di pagi hari. Sementara untuk pasar Padang Gantiang, masih bisa dilakukan sepulang sekolah.
Begitu tamat SMP di Padang Gantiang, keinginan untuk melanjutkan pendidikan cukup tinggi, walau hanya emak yang akan membiayai. Saya bersekolah di Kota Padang, memilih SMA Adabiah di Simpang Kandang. Cukup memprihatinkan juga, karena harus berjualan rokok pulang sekolah, lantaran biaya bulanan yang dikirim melalui bus Dasrat saat itu hanya Rp.5.000,- pada hal untuk uang sekolah saja sudah Rp.1.500,-
SELANJUTNYA HAL. 2































