Sempat Diguyur Hujan Lebat, Pembukaan Situmbuak Art and Culture Diwarnai Mangubang

0
655

SABANA KABA,Tanah Datar— Pembukaan Situmbuak Art and Culture Festival oleh Bupati Tanah Datar Eka Putra, SE,MM Lapangan Bola Kaki Nagari Situmbuak Kecamatan Salimpaung, Sabtu (19/08/2023) diwarnai dengan Maantaan Padi jo Mangubang, walaupun diguyur hujan lebat sejak pagi, namun warga setempat tetap bersemangat.

BACA JUGA : Hadiri Situmbuk Art and Culture, M.Shadiq Pasadigoe Dapat Respon Positif dari Masyarakat

Tampak hadir pada acara pembukaan tersebut Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Arkadius Dt. Intan Bano, Ketua DPRD Tanah Datar H. Rony Mulyadi Dt. Bungsu, Bupati Tanah Datar periode 2005-2015 M. Shadig Pasadigoe, anggota DPRD kabupaten Tanah Datar, Ketua TP PKK Tanah Datar Ny. Lise Eka Putra dan undangan lainnya.

Bupati Eka Putra dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat Nagari Situmbuak untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta bersama-sama membangun nagari dan Kabupaten Tanah Datar lebih baik lagi ke depannya.

Selanjutnya, Bupati Eka Putra juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua dan seluruh anggota panitia Situmbuak Art and Culture Festival beserta seluruh masyarakat yang telah ikut berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan ini.

“Hari ini sungguh luar biasa, walaupun hujan mengguyur sangat lebat tetapi antusias masyarakat sangat luar biasa untuk mensukseskan acara yang bertema Situmbuak Maantaan Padi jo Mangubang ini. Inilah tujuan program Satu Nagari Satu Event, yang mana melalui program ini tradisi yang sudah lama akan muncul kembali sehingga para generasi muda kita bisa mengenal tradisi-tradisi yang sudah lama ditinggalkan,” katanya.

Sebelumnya, Ketua pelaksana acara Amril Bustian dalam laporannya mengatakan bahwa Situmbuak Art Culture Festival akan berlangsung selama 3 hari sampai tanggal 21 Agustus mendatang dengan rangkaian kegiatan pawai adat dan budaya, penampilan parade dengan tema Maataan Padi jo Mangubang, berbagai penampilan kesenian anak nagari.

Selain itu juga ada penampilan kesenian Randai Puti Bungo Awan, lomba lagu Minang, permainan tempo dulu, dan ditutup dengan kegiatan gerak jalan sehat.Pada acara pembukaan tersebut juga ditampilkan atraksi mangalamai dan mangubang yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat setempat diwaktu sebelum dan sesudah menggelar pesta pernikahan.

Mangalamai, menurut warga setempat ialah prosesi memasak galamai yang nantinya akan digunakan untuk pesta pernikahan. Sementara, mangubang dilakukan pada hari ke tiga setelah pesta pernikahan. Biasanya untuk mangubang pihak sumandan membawakan air mentah ke rumah pengantin perempuan yang selanjutnya air tersebut digunakan untuk kebutuhan memasak.

Kebiasaan ini dimasa dahulunya dilakukan oleh nenek moyang mereka karena kondisi air di daerah tersebut sulit, jadi sumandan mengambil air dari pincuran yang letaknya jauh dari pemukiman warga. Namun demikian, walau kondisi saat ini sudah berbeda, tetapi tradisi mangubang ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat setempat.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here