Sabana Kaba, Tanah Datar—Kondisi prilaku generasi muda akhir-akhir ini memang cukup memprihatinkan, baik diperkotaan maupun di tingkat nagari. Hampir tiap hari ada saja berita tentang generasi muda terlibat narkoba, tersangkut perbuatan cabul dan lain-lain yang tidak sesuai dengan agama maupun adat istiadat Minang Kabau.
BACA JUGA : Kian Cemerlang, Adi Menang Tantangan Pertama MasterChef Indonesia
Demikian dikemukakan Buya H.Khaidir Jumin tokoh agama terkemuka asal Padang Ganting Kecamatan Padang Ganting Kabupaten Tanah Datar Sumbar, ketika menjawab pertanyaan media ini sehubungan dengan terjadinya degradasi moral dikalangan generasi muda, melalui WA, Minggu (01/08/2021).
Dikatakan, di satu sisi kita harus menyukseskan program pemerintah untuk belajar daring agar tidak terpapar Covid 19, namun di sisi lain dampaknya generasi muda terjauhkan dari nasehat guru. Bermain dengan teknologi semangkin sulit membendung prilaku generasi muda, karena mulai dari aplikasi tik tok hingga aplikasi youtube, membuat mata melek tanpa ada saringan atau pengawasan.
Khaidir Jumin menyebutkan, kegiatan di surau dan masjid tidak lagi menjadi daya tarek bagi kaum remaja, apalagi setelah ada pembatasan-pembatasan akhir-akhir ini. Berdasarkan hasil pandangan mata ketika menjadì Khatib Jum’at, bahkan khatib dua hari besar Islam, banyak generasi muda tak kelihatan puncak hidungnya, termasuk di Padang Ģantiang 10 tahun terakhir.
“Untuk membuktikan iya atau tidaknya, boleh di cek pada setiap pelaksanaan sholat Jum’at berikutnya, generasi SMP dan SMA berapa persen yang hadir dalam kegiatan sekali seminggu tersebut,” tutur Khaidir Jumin.
Ia berpendapat, sebagai solusi dari permasalahan ini, diharapkan Wali Nagari bersama BPRN dapat membuat Pernag (Peraturan Nagari) untuk menekankan pendidikan agama dan adat kembali dihidupkan, kegiatan mushabaqah, Tilawah – Tadabur – dan Tahsin serta Tahfiz Al-Qur’an harus dikemas berbasis IT, melibatkan generasi muda.
“Pemerintah Nagari harus memperbesar anggaran kegiatan generasi muda ketimbang kegiatan pembangunan fisik, artinya kalau bangunan surau dan masjid sudah kokoh, tinggal memoles menjadi indah, dengan kata lain kegiatan generasi muda harus lebih mahal dari nilai membangun fisik,” kata Buya Khaidir menambahkan.
Buya H.Khaidir Jumin juga menyarankan kepada pengurus masjid dan mushalla agar dapat menyediakan fasiltas jaringan internet, pustaka masjid berbasis IT (Informasi dan Teknologi), terutama dalam mendorong generasi muda menjadi youtuber yang islami.(WD)






























