Oleh : WIRMAS DARWIS, SE
Perjuangan Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar dalam menekuni profesi wartawan memang cukup bervariasi, ada enaknya dan tak jarang pula mendapat ancaman dari berbagai pihak yang merasa tersenggol. Destia Sastra sebagai seorang wartawati di Luhak Nan Tuo, tidak luput dari ancaman pihak yang merasa “tasingguang puncak kadanyo”, simak ungkapan yang disampaikan dibawah ini.
Tanpa terasa sudah 29 tahun saya berkiprah dalam dunia jurnalistik yang dimulai dengan mesin ketik hingga saat ini mengunakan Android. Saya mulai terjun menjadi wartawan pada tahun 1996 dan bergabung dengan KMD Harian Haluan.Semua berawal dari TV Hitam Putih amak, saya yang ketika itu masih kecil suka menonton “Dunia Dalam Berita” yang disiarkan TVRI pada pukul 21.00 WIB.
Program yang satu ini merupakan program berita andalan dari TVRI. Sesuai dengan namanya, program yang eksis sejak 20 Juli 1973 ini menyiarkan berita-berita interasional.
Melalui program Dunia Dalam berita saya menyaksikan berbagai kabar daerah, nasional dan internasional. Saya terkagum-kagum saat pembaca berita membacakan berita-berita yang sudah dipilih dan dipilah. Dari sekian banyak berita saya sering menyaksikan Menteri Penerangan Harmoko yang menyampaikan kabar tentang keberhasilan pembangunan.
TV Hitam Putih Amak itu mengantarkan saya bertemu wartawan KMD Haluan Tanah Datar seperti Mittiarni, Rini dan Elinisfa, saya juga akhirnya tahu lelaki berkacamata itu bernama Zulfikar Gatot, dan yang bekerja di Dinas Kesehatan Tanah Datar itu Darmi DH, ada juga Syafran Tamsa, Wirmas Darwis, Emrizal, Irwan Darwis, Nazirwan Ma’ani, M. Ilyas, Nazim Azis, Syafrinal dan masih banyak yang lainnya.
Suka Duka Jadi Wartawan
Bercerita tentang suka dan duka sebagai wartawan, bagi saya lebih banyak sukanya meski terkadang harus menghadang resiko, seperti diuber-uber preman, gara-gara berita pungli, atau dicari-cari ASN di Dinas Pendidikan karena menyorot kasus di instansi itu, bahkan tahun 2000 nyaris dipenjara karena menyoroti kasus judi ambuang yang diduga dibeking oleh oknum Polri.
Saya wartawan perempuan yang ditempatkan diposko kriminal, meski saya sudah menyampaikan keberatan, dari tiga orang wartawan Harian Sumbar Mandiri di Tanah Datar saya satu-satunya wartawan perempuan, tapi redaktur yang bertanggung jawab untuk berita Tanah Datar berpendapat lain, sehingga saya dipilih dan ditetapkan untuk berita-berita kriminal.
Kasus judi ambuang di salah satu sudut kampung ini mencuat saat ada orang sesumbar bahwa judi ambuang dibeking oleh oknum Polri, orang itu melanjutkan mobil dinas di institusi itu yang rusak diamuk masak di Kecamatan Salimpaung diperbaiki dari dana yang berasal dari arena judi itu.
SELANJUTNYA HAL. 2






























