Kuras Uang Nasabah Rp.1,3 M, Dua Pelaku Tindak Pidana Perbankan Ditangkap Polisi

0
524

Sabana Kaba, Riau–Subdit II Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau mengungkap Kejahatan Tindak Pidana Perbankan yang terjadi disalah satu bank pemerintah. Pengungkapan tersebut diekspose ke publik dalam gelaran Konperensi Pers di halaman belakang markas komando Polda Riau, jalan Pattimura no 13 Kota Pekanbaru Selasa sore (30/03/2021) .

BACA JUGA : Pekan Baru Dilanda Banjir, Tim SAR Evakuasi Warga Gunakan Perahu Kano

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto di damping Ps Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Riau, Kompol Teddy Ardian, SH, MH dalam keterangannya mengatakan, kejadian bermula dari laporan salah satu nasabah bahwa telah terjadi penyusutan jumlah uang dalam rekeningnya sehingga menyebabkan kerugian dengan jumlah Milyaran rupiah.

Kombes Narto selanjutnya mengatakan, pada akhir Desember 2015, nasabah datang untuk mencetak rekening tabungan milik ibunya dan di dapati uang yang tersisa dalam rekening tinggal sekitar sembilan juta saja. Padahal nasabah tersebut tidak melakukan transaksi apapun, dan uang tersebut disimpan untuk persiapan masa depan.

Atas kejadian itu, nasabah melaporkan ke pihak Kepolisian. Subdit II Ditkrimsus Polda Riau langsung bergerak untuk melakukan penyelidikan. Setelah dilakukan pemeriksaan dokumen bank, penyidik mendapatkan bukti bukti yang menguatkan dugaan tindak pidana, yang menimpa beberapa nasabah dengan kejadian sama, sehingga total kerugian nasabah mencapai hampir Rp 1,4 Milyar rupiah.

Penyidik Polda Riau telah menangkap dan menahan 2 orang tersangka atas kasus ini yakni NH (37 tahun) mantan Teller di Bank tersebut dan AS (42 tahun) mantan Head Teller pada Bank yang sama.

Dalam prakteknya, tersangka NH yang pada masa itu bertindak sebagai Teller memantau rekening milik nasabah yang diam atau jarang dilakukan aktifitas terhadap rekening pribadinya tersebut.

Dalam pantauan tersangka NH ini akhirnya ia melihat ada tiga rekening dalam jumlah saldo cukup besar dan tidak pernah dilakukan aktifitas oleh pemilik rekening. Kemudian NH melakukan penarikan uang dengan menulis dan memalsukan tanda tangan nasabah.

“Penarikan uang dilakukan tersangka NH terhadap rekening rekening tersebut dalam beberapa kali tahapan penarikan,” tutur Kombes Narto seperti dikutip dari Tribrata News Riau.

Sedangkan tersangka AS sebagai Head Teller yang seharusnya melakukan check dan Re Check di setiap penarikan dana nasabah malah memberikan user ID dan paswordnya selaku pengawas kepada tersangka NH yang bertindak sebagai Teller, hal ini tentu memudahkan tersanka NH melakukan aksinya.

Penyidik menyita Barang Bukti 228 slip transaksi asli atas nama para nasabah yang jumlahnya bervariasi antara Rp. 7,- juta hingga Rp. 98,- juta.

Penyidik juga telah melakukan uji forensik terhadap tanda tangan yang tertera pada slip penarikan dengan tanda tangan nasabah. Hasil uji forensik memastikan bahwa antara tanda tangan pada slip penarikan yang ditulis oleh pelaku Non Identik dengan tanda tangan nasabah.

Hal ini menguatkan dugaan penyidik atas perbuatan tersangka NH dan AS untuk dibidik dengan pasal berlapis yakni pasal 49 ayat (1) huruf a UU no 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU no nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan pasal 49 ayat (2) hurub b UU no 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, dengan ancaman hukuman 5 – 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp.200 Milyar.

Kabid Humas Polda Riau Narto mengingatkan warga masyarakat/nasabah untuk keselamatan dan keamanan uang yang disimpan di bank, karena pekerja bank memiliki potensi untuk melakukan tindak pidana perbankan, bisa melakukan pencurian dana nasabah.

“Oleh karena itu saya menghimbau dan mengingatkan masyarakat/nasabah agar rutin mengecek saldonya. Apalagi bagi pemilik rekening dormant atau rekening diam”, tutupnya.(SK.01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here