Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (2), Efrison, SE: Kartu PWI Bisa, Karena Terbiasa

0
553

Sekembali dari lapangan dicari mesin tik, kertas HVS, kertas karbon agar release bisa lebih dari satu rangkap. Kalau acaranya sangat penting dan perlu segera, langsung ke studio foto untuk cetak foto kunjungan lapangan.

Setelah release dan foto siap, semua diserahkan ke Wartawan untuk diberitakan. Saat itu Jumlah Wartawan dan media cetak tak sebanyak sekarang.

M. Syukur, Koordinator Daerah Harian Semangat wilayah Tanah Datar, pada tahun 1997 mengajak sayabergabung menulis di Harian Semangat. Dan saya sangat senang sekali, karena sangat membantu tugas saya sebagai penyampai informasi daerah, berawal sinilah saya mulai menulis untuk surat kabar.

Setelah sekian tahun menulis di Surat Kabar, saya ingin memperoleh Kartu Pers, saat itu hanya ada satu organisasi Pers, yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Untuk menjadi anggota PWI cukup susah, tidak hanya harus bisa menulis, tapi juga harus Diklat selama 3 hari dan terakhir dilakukan ujian.

Dan sayapun ikuti tahapanya, Alhamdulillah lulus dan dapat kartu PWI. Dengan adanya kartu PWI ini banyak manfaat dan pengalaman yang diperoleh, diantaranya akan dipermudah dan difasilitasi kalau ada kegiatan dan permalasahan. Yang pasti lebih menyukseskan tugas sebagai corongnya Pemda Tanah Datar, profesi baru sebagai Wartawan diakui oleh organisasi resmi. Suatu kebanggaan tersendiri karena telah punya kartu PWI.

Selama menjadi anggota PWI berbagai pelatihan Jurnalistik cetak maupun eletronik sudah saya ikuti. Untuk pelatihan Jurnalistik Elektronik di TVRI Padang dan Quantum Studio di Bandung bersama Drs. Yusrizal (Sekarang kepala Dinas Kominfo).

Penerbitan Tabloid Kaba Luhak Nan Tuo adalah salah satu karya jurnalistik cetak yang sangat berkesan. Kaba Luhak Nan Tuo merupakan media cetak dwi bulanan, bertujuan untuk menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat.

Untuk sampai ke tangan pembaca, menyiapkan Tabloid Kaba Luhak Nan Tuo memberikan pengalaman tersendiri, mulai dari mengumpulkan berita Bakohumas dan Wartawan, lay out berita per halaman, waktu percetakan ditunggu sampai jam 3 dinihari.Setelah selesai cetak, untuk membawa Tabloid ke Batusangkar saya menumpang dengan mobil loper Surat Kabar Hariang Singgalang, berangkat jam 04.00 Wib i dari padang, jam 06.00 Wib sudah sampai di Batsuangkar.

Sementara untuk Karya Jurnalis Elektronik adalah Shooting kebakaran Istano Basa Pagaruyung, peristiwa bersejarah tersebut tak ada orang lain yang dokumentasikan, saya rekam menggunakan Handycame (di waktu itu belum ada Handphone). Setelah itu saya copykan dan bagikan kepada media televisi nasional yang datang ke Batusangkar.

Alhamdulilah pada acara lelang Pembangunan Kembali Istano Basa Pagaruyung di rumah Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kalla, dari penayangan Film Kebakaran Istano Basa Pagaruyung tersebut terkumpul uang sekitar Rp. 5 milyar.

Sekarang sudah 30 tahun berlalu, kesimpulan penting perjalanan hidup yang saya perankan adalah : Cintai dan laksanakan pekerjaan dengan setulus hati, Kreatif dan jangan pernah merugikan/ merendahkan orang lain, In Sya Allah kita akan dilindungi dan dirahmati Allah.(Bersambung)