
Oleh : WIRMAS DARWIS, SE
Bagi saya menjadi wartawan adalah suatu keberlanjutan perjuangan dari sebuah idealisme. Muda dan berstatus mahasiswa senior ketika berlangsungnya gejolak reformasi telah mengantarkan saya dan kawan-kawan para organistoris OKP ekstra kampus menjadi aktivis jalanan kala itu.
Jauh sebelum reformasi, kami para “mahasiswa” telah membekali diri dengan literasi-literasi kebangsaan, baik yang berstatus halal maupun yang diharam jadahkan oleh penguasa orde baru, sehingga ketika genderang reformasi ditabuhkan, literasi-literasi itu berwujud menjadi asa perjuangan yang meski diwujudkan untuk masa depan negara tercinta ini.
Menjadi bagian dari aktivis Angkatan ’98 menjadi afirmasi positif bagi saya untuk memasuki dunia jurnalistik, dunia yang saya percaya bakal memberi jalan untuk mengambil peran walapun kecil, melanjutkan terus perjuangan reformasi yang masih seumur jagung. Ya dipertengahan 1999, saya memutuskan hijrah ke pulau Batam.
Untuk sebuah idealisme, saya mengenyampingkan tawaran menjadi PNS, dari seorang senior yang kebetulan sedang “mamacik” di Biro kepegawaian Ketika itu. Di kota Batam, dengan berbekal ijazah Sarjana Hukum, saya berhasil memasuki gerbang jurnalistik.
Di kota Industri itu saya diterima sebagai Reporter di “Harian Sijori Pos” sebuah Surat Kabar milik grup media nasional terbesar Ketika itu, Jawa Pos News Network (JPNN) dengan jumlah koran dan majalah lebih dari 150 penerbitan.
Walau sudah berstatus seorang jurnalis, idealisme sebagai mantan aktivis kampus ternyata tidak pudar, jiwa perjuangan saya muncul dalam pemberitaan, begitu melihat ada masyarakat tertindas, akibatnya saya yang berstatus wartawan muda ketika itu dipanggil khusus oleh oknum penguasa lokal akibat pemberitaan yang saya tulis, tujuan pemanggilan saya adalah untuk mengarahkan pemberitaan sesuai keinginan mereka.
“Kalau pemberitaan kamu seperti ini, kami berhak mengusir kamu dari daerah ini, karena ini daerah khusus, ” ancam si oknum, Ancaman ini disampaikan ketika saya memasuki ruang kerja si Oknum yang cukup mentereng. Walau ketika itu reformasi sudah bergulir, intimidasi pers ala-ala orba masih terlihat.
Tidak begitu lama di Sijori Pos, saya harus pulang kampung untuk sebuah pengabdian kepada orang tua, karena orang tua jatuh sakit.Dari Wartawan Dunia Gaib ke Wartawan Berdarah-darah.
SELANJUTNYA HAL.2






























