Kiprah Wartawsn Mesin Ketik Tanah Datar (3), Elfiardi, SH: Wartawan Perjuangan Idealis

0
40

Akhir 1999 saya pulang ke Tanah Datar, tujuan utama pulang jelas demi menjaga orang tua yang sakit dan saat kesehatan orang tua mulai membaik, jiwa jurnalistik saya kembali bangkit, ujung-ujung jari seolah bergetar menahan rindu untuk kembali menekan tuts-tuts mesin ketik, tetapi saya buntu ke media mana saya harus bergabung.

Walau lahir dan tumbuh di Tanah Datar saya tidak memiliki kenalan seorangpun wartawan ketika itu, sehingga sulit untuk meminta referensi Surat Kabar yang membutuhkan wartawan, lain cerita kalau di Jambi, saya punya teman Koordinator Liputan dan Redaktur Surat Kabar Harian.

Saya tidak patah arang, kebiasaan saya membeli koran ternyata memberi jalan untuk kembali memasuki dunia jurnalistik. Di Surat Kabar Mingguan “Rancang” ketika itu, saya menemukan iklan bahwa Mingguan yang baru saja berdiri itu membutuhkan sejumlah Wartawan.

Tidak menunggu lama sayapun mengantarkan lamaran ke Pimpinan Redaksinya, karena saya yakin Surat Kabar Mingguan ini akan maju, sebab sejumlah personil pada jajaran redaksinya adalah para mantan wartawan dari sebuah Mingguan terbesar oplahnya di Sumatera Barat.

Singkat cerita sayapun diterima dan dijadikan kontributor berita untuk daerah Tanah Datar. Yang menarik dari “Mingguan Rancang”, selain berita umum, “Rancang” juga menyediakan rubrik yang berbau klenik, sayapun tertarik untuk menggali cerita-cerita mistis sekitar Tanah Datar dari orang-orang tua dan masyarakat yang memiliki pengalaman seputar dunia mistis.

Diantara artikel yang pernah saya buat dan terbit adalah cerita tentang Kelok Ular di ruas jalan Batusangkar-Baso dan Cerita seputaran pohon beringin sakti yang berada di jantung kota Batusangkar dan menariknya, mantra-mantra yang pernah saya dapat dan dijadikan bahan tulisan.

Klipingnya disimpan salah satu pembaca hingga puluhan tahun, saya mengetahui dari pembaca itu beberapa tahun lalu, meski artikel itu terbit sekitar tahun 2000-an. Hanya beberapa bulan di “Mingguan Rancang” saya harus resign karena koran berhenti terbit, saya tidak mengetahui apa penyebab “Mingguan Rancang” tidak lagi naik cetak.

Pasca tidak lagi berstatus wartawan “Mingguan Rancang”, medio pertengahan tahun 2000 saya bergabung dengan “Mingguan Padang Pos”, saya bersyukur bisa bergabung dengan sejumlah dedengkot pers Sumbar di media tersebut seperti Bapak Fadril Aziz Isnaini (Infai) Almarhum, Bapak Dian Wijaya dan Bapak Basril Basyar (BB) yang belakangan hari menjadi Ketua PWI Sumbar.

SELANJUTNYA HAL. 3