Konsumsi Makanan Instan, Anak Berkebutuhan Khusus Meningkat

0
252

Sabana Kaba, Tanah Datar--Sebanyak dua puluh Sekolah Luar Biasa dan Sekolah Reguler yang menjalankan Program Pendidikan Inklusif dengan lima puluh orang guru, diberikan pelatihan tentang penyelenggaraan Sekolah Inklusif bagi Siswa Berkebutuhan Khusus. Kegiatan ini dilaksanakan di SLBN 1 Lima Kaum, Sabtu (22/9), dengan mengundang nara sumber dari Propinsi Sumatera Barat, Agus Rindo S.Pd.

Dalaam penyampaian materinya melalui tayangan Video penguatan, diskusi, curah pendapat dan menceritakan pengalaman selama menjadi guru sekolah yang menjalankan program Inklusi bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Agus Rindo juga menjelaskan bahwa pada dasarnya semua sekolah disemua tingkat telah menyelenggarakan pendidikan Inklusif ini, namun belum dalam panduan, kondisi dan pengelolaan yang sesuai dengan panduan dan pola asuh yang diprogramkan oleh Pendidikan Khusus Layanan Khusus Melalui Sekolah Luar Biasa (PKLK-SLB ) yang ditunjuk sebagai sekolah Rujukan yang selanjutnya dijadikan sekolah Pusat Sumber.

Kegiatan ini dilaksanakan, untuk tingkat Sekolah Dasar , Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi bagi ABK se Kabupaten Tanah Datar.

Kepala Bidang PSLB dan Kabid SMA Propinsi Sumatera Barat, Irman S.Pd.MM. dalam penyampaian pesan penguatannya didepan peserta pelatihan menyampaikan kegamangannya atas akan semakin bertambah banyaknya jumlah Anak Berkebutuhan Khusus di setiap sekolah reguler akibat kondisi anak yang masih dalam usia sekolah telah mengalami penyimpangan prilaku,

Penyimpangan prilaku yang menyangkut kecerdasan fisik dan kecerdasan mental yang akan terlihat gagal dalam melaksanakan tugas kepribadiannya sebagai makhluk sosial, yang harus bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

“Keadaan ini menurut saya ada hubungannya dengan terganggunya bagian bagian syaraf dalam otak mereka, sehingga kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar jadi terhalang,” ujarnya sambil menyebutkan beberapa contoh.

Contoh kongkrit yang diberikan oleh Kabid PKLK PSLB Propinsi Sumatera Barat itu adalah kurangnya tingkat sensitifitas anak – anak sekarang saat berada di tengah keramaian, menurutnya anak – anak jaman now lebih mementingkan pesan WhatShap dan Instagram daripada suara ibu yang menyuruhnya untuk shalat dan makan. “ini adalah salah satu indikator penyebab akan bertambahnya jumlah Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah reguler dalam waktu dekat”. Ujarnya.

Lebih jauh Diuraikan juga bahwa kecenderungan masyarakat yang lebih menyukai hidangan siap saji atau makanam instan dengan berbagai jenis zat kimia yang dicampurkan kedalam makan instan itu, akan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel syaraf secara tanpa sengaja tidak disadari.

Ketidaksempurnaan pertumbuhan dan perkembangan sel syaraf itu, dapat saja menyebabkan anak jadi cacat fisik maupun mental. Maka bila masa itu sampai maka akan semakin bertambahlah jumlah siswa yang akan menjadi ABK di sekolah reguler tanpa bisa dicegah laju pertumbuhannya.

Untuk itulah perlu diadakan pelatihan kepada guru semua sekolah tentang bagaimana mengelola dan mengurusi anak berkebutuhan khusus , agar tidak terjadi pendiskriminasian kepada mereka di sekolah reguler, baik negeri maupun swasta.

Dalam kesempatan itu juga diberikan pesan penguatan mental kepada para peserta agar tetap mengaktifkan dan meremajakan data sekolahnya sebagai Sekolah Reguler yang menyelenggarakan Pendidikan Inklusif melalui data Dapodik Sekolah setiap waktu.

Diharapkan semua input data dapat dibaca di server pusat, sehingga harapan untuk dapat bantuan dari pemerintah pusat bisa dikabulkan.

Sementara itu Kepala SLBN 1 Lima Kaum Iriyandi, S.Pd.menyampaikan bahwa keberadaan SLBN 1 Lima Kaum sebagai Sekolah Rujukan dan Pusat Sumber dapat dijadikan referensi bagi dua puluh Sekolah reguler yang menyelenggarakan Pendidikan Inklusi di kabupaten Tanah Datar yang mengalami kendala dalam mengelola ABK.

“Kami di SLB N 1 Lima kaum sangat siap membantu sekolah reguler yang menemukan persoalan dalam mengurus ABK, karena Guru Pembina Khusus (GPK) sesuai bidang ketunaan ada di sini. Jadi datangi saja kami dengan data lengkap siswa ABK tersebut maka, Insya Allah kita bisa berdiskusi untuk mencari solusinya”. Ujar Bapak yang berkepribadian lembut dan penyayang tapi tegas ini menutup pembicaraan dengan Sabanakaba.com. (MIT).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here