Oleh : WIRMAS DARWIS, SE
Melaksanakan tugas sebagai wartawan dalam era Wartawan Mesin Ketik memang memiliki beban yang cukup berat, dengan perjuangan cukup menantang. Salah kaprah dalam menginformasikan berita masyarakat bisa-bisa mengundang kemarahan masyarakat itu sendiri, simak pengalaman Yusnaldi menjalani profesi kewartawanan dibawah ini.
Peristiwa kelam bagi pendaki gunung Marapi pada 19 November 1999 kala menewaskan empat orang siswa SMAN Batusangkar merupakan jejak langkah kewartawanan yang kurang mengenakan bagi saya.Saat itu, beberapa hari balik-balik ke posko di pinggang Marapi dalam tugas liputan hingga suatu malam yang dingin dan basah saya membuat kesalahan.
Hal ini terjadi saat bersilewerannya informasi yang beredar disana sehingga saya salah tulis.Paginya di Harian Mimbar Minang jadi headline Tut tewas di Marapi. Ini tentu membuat saya merasa bersalah dan cemas karena headline demikian hanya Harian Mimbar Minang, dan tak ada harian yang menyebutkan tewasnya korban di Marapi, kecuali temannya yang positif tewas dan ditemukan malamnya.
Saat itu saya bersama wartawan Padang Ekspres Angku Mustafa Akmal yang dapat info akurat, dan mengaku dapat informasi terakhir bahwa yang tewas itu bukan ia.Memang benar Tut ditemukan tewas setelah korban yang lainnnya ditemukan.Esoknya di Balai Wartawan ada informasi orang mencari saya hingga kemudian saya meneruskan liputan ke keluarga korban.
Untung saat itu ditemani Anton Yondra dari Haluan. Dimana ayah korban adalah gurunya juga, dan bisa menahan emosi massa untuk berbuat sesuatu untuk mencari saya.Jerih payah bolak-balik ke gunung Marapi dengan motor pribadi dan menumpang kendaraan dinas saat itu bersama sejumlah kawan, kami menerima belanja dari Pak Bupati Masdar Saisa senilai Rp. 150 ribu yang harganya sangat besar.
Sebagai anak muda yang siap pergi kemana-mana di Tanah Datar, kami bersama satu tim dengan Ni Linda, H Epi Gapuak, Masriwal, Mustafa Akmal, M. Mr. Tibb, Anton Yondra, Martias, dan sejumlah seniornya lainnya mengunjungi hampir seluruh pelosok Tanah Datar.
SELANJUTNYA HAL. 2





























