Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (5), Maizar Rangkuty Wartawan dan Komentator Singgalang

0
1

0Oleh : WIRMAS DARWIS, SE

Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar yang satu boleh dibilang cukup terkenal, karena kepiawaiannya memainkan tut mesin ketik, dengan tulisan-tulisan yang menarik simpati para pembaca. Barangkali itu pulalah yang menyebabkan Bupati Tanah Datar Ikasuma Hamid (Alm) menjadi ia sebagainanak emas dan selalu bertanya, jika Maizar Rangkuty tak kelihatan dalam satu acara, berikut sebahagian ulasan tentang Maizar Rangkuty.

Wartawan Ototidak

Tanpa pernah mengikuti pelatihan atau kursus jurnalistik, saya berkesempatan mengarungi dunia jurnalistik selama 20 tahun, dari tahun 1984 hingga 2004, sebagai wartawan di Harian Singgalang. Saya mengalami langsung perubahan zaman: dari era wartawan yang mengetik berita dengan mesin ketik, lalu
beralih ke komputer/laptop, hingga kini ke ponsel Android.

Pengiriman berita pun berevolusi, dulu melalui kurir, sopir bus AKDP, dan agen koran; kemudian menggunakan faksimile dan telepon; hingga akhirnya melalui email. Pada era 1990-an, jika ada pertandingan sepak bola di Batusangkar, setelah pertandingan usai, beritanya harus segera dikirim ke redaksi menggunakan jasa telepon interlokal PTD di Kantor Telkom Batusangkar.

Saya lupa kepanjangan PTD, tetapi yang saya ingat, pembayaran telepon interlokalnya dilakukan di tempat yang dituju. Kita melapor terlebih dahulu ke petugas Telkom bahwa ingin menggunakan layanan interlokal.

Petugas lalu menghubungi redaksi koran, menginformasikan bahwa ada permintaan PTD dari wartawan di Batusangkar. Jika redaksi menyetujui, barulah kita langsung berbicara dengan redaksi. Wartawan era 2000-an tentu tidak lagi mengenal cara lama seperti ini.

Sejak duduk di bangku SD, saya memang sudah gemar membaca dan menulis (mengarang). Sebelum benar-benar terjun ke dunia jurnalistik, beberapa cerita anak, cerpen remaja, dan artikel yang saya tulis sudah pernah dimuat di
koran Singgalang, Haluan, dan Semangat, tiga koran besar di Sumatera Barat pada awal 1980-an.

Kemudian, tulisan saya juga mulai dimuat di Mingguan Canang. Pada triwulan terakhir tahun 1984, saya resmi bergabung sebagai wartawan di Harian Singgalang.

Sebagai wartawan otodidak, hingga akhir 1985 saya hampir tidak mengenal sosok-sosok wartawan di Tanah Datar. Suatu hari di awal 1986, secara tidak sengaja saya bersua dengan Kepala Bagian Humas Pemda Tanah Datar saat itu, N. Dt. Panduko, SH, dalam sebuah acara Musyawarah Pembangunan Desa
(Musbangdes).

SELANJUTNYA HAL.2