Kiprah Wartawan Mesin Ketik Tanah Datar (5), Maizar Rangkuty Wartawan dan Komentator Singgalang

0
43

Setelah mengambil dan membaca koran di Pustaka Pribadi (agen Singgalang di Batusangkar), saya pulang kampung ke Payakumbuh, saat itu saya masih bujangan. Minggu sore, ketika hendak kembali ke Batusangkar, saya menerima sepucuk surat dari kernet mobil AKDP jurusan Payakumbuh–Batusangkar.

Perlu diingat, waktu itu jangankan ponsel, telepon pun belum tersedia di kampung. Surat itu dikirim oleh teman sesama penghuni kost di Padang Ganting. Begitu saya buka amplopnya, kira-kira begini inti pesannya: “Maizar, jangan dulu kembali ke Padang Ganting dalam 3 hari ini. Tadi malam, sekitar pukul 11 malam (Sabtu malam), kamu dicari oleh dua orang tentara.

Katanya, ini berkaitan dengan berita Singgalang tentang kegiatan AMD. Saya sudah koordinasikan dengan Kepala Sekolah (Kepala SMPN Padang Ganting, tempat saya mengajar sebagai guru). Kepala Sekolah memberi izin agar kamu tidak masuk dulu selama 3 hari.

“Keluar keringat dingin, serasa jantung copot saat saya membaca surat yang mengingatkan bahwa saya mungkin sedang terancam. Saya tidak habis pikir, apa maksudnya saya dicari tentara tengah malam? Padahal, menurut saya, berita yang saya tulis tentang kegiatan AMD itu biasa saja: sekadar mengabarkan apa yang sudah terealisasi dan apa yang belum.

Hari Kamis berikutnya, saya memberanikan diri kembali ke Padang Ganting. Begitu tiba, saya langsung menemui Wali Nagari Padang Ganting saat itu, Bapak Ilyas Dt. Rajo Lelo, seorang wali nagari yang bermantagi, kharismatik, serta sangat dihormati hingga ke tingkat Muspida Tanah Datar.

Dari penuturan Dt. Rajo Lelo, barulah saya tahu bahwa tentara mencarikan saya bukan untuk mengancam, melainkanuntuk meminta saya mengekspose lanjutan kegiatan AMD  tersebut.Hadeeh… padahal sudah lebih dari tiga hari jantung saya serasa copot karena waswas!

Warung Kelambu yang Melahirkan Istilah BaruTahun 1987, pada bulan Ramadhan, saya kembali mengalami tekanan. Kali ini, saya dicari-cari oleh oknum aparat dilingkungan Pemda Tanah Datar. Penyebabnya: saya
menurunkan feature berjudul “Warung Kelambu Marak di Batusangkar Melayani Orang yang Tidak Puasa”.

Feature ini membuat saya dilaporkan ke bupati, dituduh mempermalukan Tanah Datar, Luhak Nan Tuo. Namun siapa sangka, tulisan yang awalnya menghebohkan itu justru melahirkan istilah baru dalam dunia jurnalistik di
Sumatera Barat.

SELANJUTNYA HAL. 4