Oleh : WIRMAS DARWIS, SE
Meminjam istilah almarhum Ikasuma Hamid mantan Bupati Tanah Datar, jika ingin hidup lebih sejahtera harus berusaha dengan ekonomi berlapis. Barangkali itu pulalah yang menjadi motto hidup Wartawan Mesin Ketik Rafinos, S.Sos dalam perjalanan hidupnya. Disamping wartawan, isteri PNS bidang tenaga medis ia juga berusaha di sektor peternakan ayam pedaging, simak pengakuannya berikut ini.
Diilahirkan disebuah desa kecil yang sejuk dan Asri dikaki bukit Saduali bernama Bukit Siangok bagian dari Jorong Pabalutan nagari Rambatan dan berbatasan langsung dengan ibukota kabupaten Tanah Datar Kota Batusangkar, kehidupan yang dijalani sama seperti anak-anak desa umumnya yang sarat dengan aktifitas bermain dan bersosialisasi dengan sebaya meskipun sedikit agak nakal, namun masih dalam batas kewajaran seorang anak laki-laki.
Setamat SMEA negeri Batusangkar tahun 1990 (seharusnya tamat tahun 1998 karena tinggal kelas dikelas 1 akibat nakal dan tudak niat juga sekolah disitu awalnya), niatnya ingin meneruskan kebangku kuliah, namun orang tua sudah wanti-wanti bahwa kemampuan ekonomi mereka hanya bisa untuk biaya kuliah di perguruan tinggi negeri dan tidak untuk Perguruan tinggi swasta.
Aku coba ikut tes masuk perguruan tinggi yang pada waktu itu jika tidak salah disebut Sipenmaru (Sistem penerimaan mahasiswa baru) dan aku gagal, maka aku niatkan untuk mencoba adu nasib dan peruntungan ke perantauan meskipun bapak saya menawarkan kerja dulu di kantornya Kandepag (kantor departemen agama) Kemenag sekarang karena sebentar lagi dia mau pensiun karena pada waktu itu masih berlaku sistem penggati orang tua, namun aku memang tidak berminat sama sekali kerja jadi PNS.
Awalnya aku mencoba untuk mencari pekerjaan di kota Padang, 2 bulan wara-wiri dengan menenteng map yang berisi Ijazah SLTA mencoba melamar ke perusahaan swasta dan hasilnya tidak ada yang mau menerima atau masih dalam daftar tunggu, Gagal di kota Padang, aku lanjut ke Pekanbaru, tepatnya ke Perawang yang waktu itu banyak Perusahaan dan pabrik-pabrik serta industri yang mempekerjaan ribuan tenaga kerja.
Aku masukkan lamaranku kesebuah pabrik besar waktu itu sebagai driver truk logging (truk besar pengangkut kayu) tapi malah aku ditawarkan jadi Security, aku menolaknya, untuk mengisi waktu aku nguli bangun pabrik baru, baru kerja 2 bulan aku berantem sama mandor dan manager karena dilarang pulang awal ketika hari Jum’at buat Jum’atan, akhirnya aku resign karena sudah menyangkut akidahku.
Lamaran belum juga keluar, aku lanjut ke Jambi dan sempat narik angkot selama 3 bulan yang akhirnya akibat berantem dengan preman pemalak aku baliak kampung dulu selama 1 bulan, kemudian aku melanjutkan perantauan ke Jakarta awal-awal tahun 1991.
SELANJUTNYA HAL. 2































